PUNCAK MULYA – PANGALENGAN
Mimpi Untuk
Membangun Masa Depan
Yang Lebih BaikPuncak Mulya berada di ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut, tanah berbukit-bukit daerah Pangalengan. Udara sejuk, menyegarkan. Kabut pada saat-saat tertentu berarak-arak menyelimuti kebun teh, kentang, dan berbagai sayur mayur yang tumbuh di daerah dingin. Ketenangan hidup warga setempat diusik oleh peristiwa gempa yang mengguncang bukit-bukit itu, Rabu, 2 September 2009. Bangunan mesjid rusak parah, beberapa rumah penduduk runtuh.
Peristiwa tersebut menjadi kesempatan teman-teman Caritas untuk menginjakkan kaki di tanah Puncak Mulya, bersilaturahmi dengan penduduk setempat. Hati terbuka bersambut, pembicaraan terjadi. Keprihatinan terungkap. Keprihatinan warga untuk mendapatkan air bersih sangat menantang untuk ditanggapi.
Sejak tahun 1981 seorang muda belia, Rohman namanya, tergerak hatinya menanggapi keprihatinan itu. Ia bertekad mengalirkan air dari mata air yang berjarak 2 km ke tempat kediamannya. Tidak semua yakin bahwa tekadnya bisa terwujud, 28 tahun yang lalu.
Ia ajak adiknya bekerjasama. Bangun pagi, membawa cangkul, meniti jalan tikus menuju mata air. Parit digali. Kerja keras membuah hasil. Dalam waktu tiga bulan, parit sepanjang 2 km sampai di halaman rumahnya. Air pun mengalir masuk ke rumah, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Parit itu berfungsi sebagai penyalur air.
Setelah beberapa tahun fungsi tersebut dilaksanakan, pak Rohman bermimpi lagi untuk memasang pralon, agar kebersihan air tetap terjaga. Sejak 25 tahun yang lalu proposal ditulis, diajukan kepada yang berwenang. Namun, parit tetap parit, sampai peristiwa 2 September terjadi.
Mimpi ditanggapi. Partisipasi warga masyarakat adalah kunci keberhasilan proyek ini. Setelah warga sepakat untuk mewujudkan mimpi tersebut, dirancang langkah-langkah selanjutnya untuk memasang pralon sebagai saluran, menempatkan beberapa bak air untuk menyalurkan air ke rumah-rumah warga, membangun bangunan untuk keperluan mck. Mimpi untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi warga beserta anak cucu agar hidup lebih sejahtera menjadi daya kekuatan untuk bekerja sama sekarang ini.
Rabu, 16 Desember 2009, ditemani pak Ius dan mas Chris saya mengunjungi Puncak Mulya, bersilaturahmi dengan warga Puncak Mulya.
Hati bersambut, tekad bersama diteguhkan, agar mimpi bersama dapat diwujudkan bersama pula.
Salam, doa ‘n Berkat Tuhan,
+ Johannes Pujasumarta